Aksi Karhutla Jambi Memanas, Massa Dibubarkan dengan Water Cannon

Aksi Karhutla Jambi Memanas, Massa Dibubarkan dengan Water Cannon

LENSAONE.ID – JAMBI – Unjuk rasa menuntut pertanggungjawaban pemerintah terkait penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kabut asap di Provinsi Jambi berakhir ricuh, Kamis (8/10/2026) sore.

Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Jambi Marah terlibat aksi saling dorong dengan aparat hingga berujung pada upaya perusakan pintu gerbang Kompleks Perkantoran Gubernur Jambi, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Telanaipura.

Polisi kemudian mengerahkan kendaraan water cannon untuk membubarkan massa setelah situasi semakin memanas.

Aksi dimulai sekitar pukul 14.10 WIB. Sekitar 150 mahasiswa dan aktivis dari sejumlah kampus serta organisasi berkumpul membawa spanduk tuntutan, bendera hitam, payung hitam, dan pengeras suara.

Massa terlebih dahulu bergerak dari Kampus UNJA Pascasarjana Telanaipura menuju Bundaran Simpang IV BI untuk menyampaikan orasi. Sekitar pukul 14.40 WIB, massa kemudian bergerak menuju gerbang utama Kompleks Perkantoran Gubernur Jambi.

Situasi mulai memanas ketika massa berusaha menerobos masuk dengan mendorong pintu gerbang hingga mengalami kerusakan. Aparat gabungan Pasukan Penanganan Huru-Hara (PHH) Polda Jambi dan Polresta Jambi langsung membentuk barikade untuk menahan massa.

Ketegangan kembali meningkat sekitar pukul 15.22 WIB. Massa membakar ban bekas di depan gerbang sebagai bentuk protes. Petugas kemudian menerjunkan pasukan PHH dan kendaraan water cannon untuk mengendalikan situasi.

Di tengah kondisi yang memanas, Pemprov Jambi bersama kepolisian sempat membuka ruang dialog sekitar pukul 15.45 WIB.

Sejumlah pejabat hadir dalam upaya dialog tersebut, di antaranya Asisten II Setda Provinsi Jambi Arief Munandar, Asisten III Setda Provinsi Jambi Jangcik Mohza, Kepala Kesbangpol Provinsi Jambi Ismed Wijaya, serta Kapolresta Jambi Kombes Pol Ananto Herlambang.

Namun, upaya dialog tersebut ditolak massa. Mereka menegaskan hanya bersedia menyampaikan tuntutan apabila dapat bertemu langsung dengan Gubernur Jambi.

Sekitar pukul 16.15 WIB, massa memecah konsentrasi menjadi dua kelompok. Sebagian bertahan di gerbang utama Jalan Jenderal Ahmad Yani, sementara kelompok lainnya bergerak menuju gerbang samping di Jalan R.M. Nur Atmadibrata, dekat RSU Raden Mattaher.

Sekitar pukul 16.36 WIB, massa kembali berkumpul dan melakukan konsolidasi. Akses Jalan Jenderal Ahmad Yani sempat diblokir. Massa secara bergantian menyampaikan orasi terkait penanganan Karhutla dan kabut asap.

Situasi mencapai puncaknya sekitar pukul 17.30 WIB. Massa secara bersama-sama berupaya merusak dan merobohkan pintu gerbang utama kompleks perkantoran.

Melihat kondisi tersebut, aparat kepolisian mengambil tindakan tegas dengan mengerahkan kendaraan water cannon. Semprotan air diarahkan untuk membubarkan konsentrasi massa sekaligus menghentikan aksi perusakan.

Massa akhirnya meninggalkan lokasi secara bertahap hingga sekitar pukul 18.03 WIB. Namun, sebelum membubarkan diri, sejumlah peserta aksi menyatakan akan kembali turun ke jalan dengan jumlah massa yang lebih besar.

Mereka mengaku kecewa karena tuntutan untuk bertemu langsung dengan Gubernur Jambi tidak terpenuhi.

Seluruh rangkaian aksi berakhir sekitar pukul 18.15 WIB. Kepolisian memastikan situasi di sekitar Kompleks Perkantoran Gubernur Jambi kembali aman dan terkendali.

Aksi tersebut menjadi sorotan di tengah persoalan Karhutla dan kabut asap yang kembali memicu keresahan masyarakat Jambi. Kondisi ini sekaligus menunjukkan meningkatnya desakan publik agar pemerintah memberikan penanganan yang lebih serius, transparan, dan terbuka terhadap persoalan Karhutla di Provinsi Jambi.

(Reporter: Meric)