LLENSAONE.ID – BUNGO – Program Sawit Rakyat (Prowitra), salah satu program unggulan Pemerintah Kabupaten Bungo yang diluncurkan secara resmi pada Juli 2025, mulai menjadi perhatian masyarakat. Program yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan warga melalui sektor perkebunan sawit tersebut dinilai berjalan relatif kurang terbuka dan belum banyak diketahui masyarakat luas.
Prowitra merupakan program pemberian bibit sawit unggul secara gratis yang dilengkapi pupuk dasar serta fasilitas pembukaan lahan. Program ini diperuntukkan bagi masyarakat yang belum memiliki kebun sawit, tetapi memiliki lahan dengan luas maksimal satu hektare.
Program tersebut digagas dengan harapan dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus meningkatkan produktivitas sektor perkebunan rakyat. Namun, dalam pelaksanaannya, informasi mengenai perkembangan program di lapangan dinilai masih terbatas.
Berdasarkan informasi yang beredar, pada tahun 2025 program Prowitra diperkirakan telah direalisasikan untuk sekitar 200 hektare. Sementara pada 2026, targetnya disebut meningkat menjadi sekitar 700 hektare dengan kebutuhan bibit mencapai kurang lebih 130.000 batang.
Meski target tersebut cukup besar, sebagian masyarakat mengaku belum memperoleh informasi yang jelas mengenai siapa saja penerima manfaat, lokasi penanaman, mekanisme pengajuan, maupun perkembangan realisasi program di lapangan.
Kondisi tersebut menimbulkan anggapan bahwa Prowitra berjalan dengan minim publikasi. Bahkan, program yang seharusnya menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah untuk membantu masyarakat tersebut mulai disebut-sebut kurang transparan karena terbatasnya informasi yang dapat diakses publik.
Sosialisasi Dinilai Belum Merata
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah sosialisasi program. Tidak semua masyarakat mengetahui keberadaan Prowitra, termasuk mengenai persyaratan dan mekanisme untuk menjadi calon penerima.
Padahal, keterbukaan informasi menjadi penting agar masyarakat yang memenuhi kriteria memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti program.
Proses verifikasi data calon penerima yang sebelumnya disebut berjalan cukup lambat juga menjadi perhatian. Minimnya informasi mengenai tahapan verifikasi tersebut berpotensi menimbulkan pertanyaan publik mengenai bagaimana proses penentuan penerima dilakukan.
Sejumlah Pertanyaan Muncul di Masyarakat
Di tengah minimnya informasi tersebut, sejumlah pertanyaan mulai muncul di masyarakat.
Apakah bibit sawit yang disalurkan benar-benar berasal dari sumber yang berkualitas dan bersertifikat?
Apakah penyaluran bibit telah dilakukan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang memenuhi kriteria?
Bagaimana mekanisme pengawasan agar penyaluran tidak dipengaruhi kepentingan atau intervensi pihak tertentu?
Kemudian, mengapa program dengan target ratusan hektare tersebut relatif minim pemberitaan dan informasi terbuka mengenai progres pelaksanaannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dinilai perlu dijawab secara terbuka oleh pihak terkait agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Publik Minta Data Dibuka
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Bungo dapat membuka informasi Prowitra secara transparan. Mulai dari jumlah penerima manfaat, lokasi lahan, jumlah bibit yang disalurkan, jenis dan sumber bibit, hingga progres penanaman di masing-masing wilayah.
Keterbukaan tersebut dinilai penting agar masyarakat dapat ikut mengawasi pelaksanaan program sekaligus memastikan bantuan benar-benar diterima oleh warga yang berhak.
Program yang menggunakan anggaran dan kebijakan pemerintah untuk kepentingan masyarakat pada dasarnya tidak hanya dituntut memiliki target besar, tetapi juga harus dapat dipantau dan dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada publik.
Jika Prowitra memang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bungo, maka diharapkan program tersebut dapat dijalankan secara lebih transparan dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.(Tim)









