Lensaone.id – Kota Jambi – Pemerintah Kota Jambi terus meningkatkan kewaspadaan menyusul kualitas udara yang masih berfluktuasi dan beberapa kali berada pada level tidak sehat. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Wali Kota Jambi, Dr. H. Maulana, MKM, mengatakan indeks kualitas udara di Kota Jambi dalam beberapa waktu terakhir bergerak naik-turun. Bahkan, angka indeks sempat menembus level di atas 200 yang masuk kategori sangat tidak sehat.
“Indeks kualitas udara kita masih fluktuatif, kadang di atas 100, bahkan sempat menyentuh angka di atas 200. Secara umum, jika di atas 100 itu sudah tidak sehat, apalagi jika melampaui 200 itu sangat tidak sehat,” ujar Maulana Sabtu(04/9/2026)
Menurutnya, kondisi udara tersebut salah satunya dipengaruhi kiriman asap dari sejumlah wilayah kabupaten maupun provinsi tetangga. Asap terbawa arah angin hingga masuk ke wilayah Kota Jambi sehingga kualitas udara masyarakat ikut terdampak.
Pemkot Jambi pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan seperti asma.
Selain persoalan kesehatan masyarakat, kondisi udara juga berdampak pada aktivitas pendidikan. Pemkot Jambi menerapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pembelajaran secara daring selama kualitas udara masih berada pada kondisi yang tidak aman.
Maulana mengatakan kebijakan tersebut akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan indeks kualitas udara. Pemerintah tidak ingin mengambil risiko dengan memaksakan pembelajaran tatap muka ketika kondisi udara belum memungkinkan.
“Selama situasi belum membaik, pembelajaran dilakukan secara daring. Jika indeks kualitas udara sudah konsisten di bawah 100, baru kegiatan tatap muka bisa dibuka kembali,” jelasnya.
Pemkot Jambi juga akan melakukan pemantauan hingga akhir pekan untuk menentukan kebijakan pembelajaran pada hari berikutnya. Keputusan tersebut akan disesuaikan dengan kondisi kualitas udara terbaru.
Di tengah ancaman kabut asap, Pemkot Jambi juga menghadapi persoalan lain yang tak kalah serius, yakni potensi krisis air bersih. Musim kemarau membuat permukaan air tanah terus menyusut dan sejumlah sumur warga mulai mengalami kekeringan.
Kondisi itu mendorong Pemkot Jambi memperkuat langkah antisipasi agar kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih tetap terpenuhi, terutama bagi warga di wilayah yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Untuk penanganannya, Pemkot Jambi menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan, PDAM, jajaran kecamatan dan kelurahan, serta sejumlah pihak lainnya.
Dukungan armada juga diperoleh dari Palang Merah Indonesia (PMI) dan batalyon setempat untuk membantu mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang terdampak.
Maulana menegaskan distribusi air bersih akan dilakukan secara berkelanjutan selama kondisi di lapangan masih membutuhkan. Pemerintah, kata dia, tidak hanya fokus menangani dampak kabut asap, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar warga tetap terjaga.
Pemkot Jambi berharap kondisi cuaca dan kualitas udara segera membaik sehingga aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar, dapat kembali berjalan normal. Namun, kewaspadaan tetap menjadi prioritas hingga situasi benar-benar dinyatakan aman.
(Reporter: Meric)









