LENSAONE.ID – JAMBI – Perumda Tirta Mayang Kota Jambi terus berupaya mengatasi tingginya kekeruhan air baku Sungai Batanghari yang sempat mencapai 4.500 NTU. Kondisi tersebut membuat perusahaan harus mengurangi kapasitas produksi air bersih hingga 30 persen dan berpotensi mengganggu pasokan kepada ribuan pelanggan.
Direktur Utama Perumda Tirta Mayang, Arianto, menyampaikan kondisi tersebut saat meninjau Intake Pulau Pandan bersama jajaran manajemen dan awak media, Kamis (1/10/2026).
Menurut Arianto, setelah sebelumnya menghadapi kondisi kekeringan dengan tinggi muka air sungai hanya sekitar 60 sentimeter, tantangan kini beralih pada tingginya sedimentasi akibat hujan di wilayah hulu Sungai Batanghari.
Bahkan, tingkat kekeruhan air baku sempat mencapai 4.500 NTU, jauh di atas kisaran normal yang dapat diolah, yakni sekitar 200 hingga 250 NTU.
“Ketinggian air sekarang sudah meningkat, tetapi kekeruhannya justru melonjak. Ini menjadi tantangan besar bagi kami,” ujar Arianto.
Akibat kondisi tersebut, Tirta Mayang terpaksa mengurangi produksi di sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA). Pengurangan produksi mencapai sekitar 30 persen di IPA Tanjung Sari, 20 persen di IPA Broni, dan 5 persen di wilayah Benteng.
Dampaknya berpotensi dirasakan sekitar 8.000 sambungan pelanggan IPA Tanjung Sari serta 25.000 hingga 30.000 pelanggan IPA Broni, terutama masyarakat yang berada di ujung jaringan distribusi.
Untuk mengantisipasi gangguan pasokan, Tirta Mayang menyiapkan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki dengan dukungan Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, dan PMI.
Namun, keterbatasan armada membuat pendistribusian air bersih harus dilakukan secara bertahap berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Selain itu, perusahaan meningkatkan penggunaan bahan kimia lebih dari 10 persen untuk mengoptimalkan proses pengolahan air. Meski demikian, tingginya tingkat kekeruhan tetap menjadi kendala karena instalasi memiliki batas kemampuan dalam mengolah air baku.
Arianto menyebutkan, tingkat kekeruhan saat ini mulai menurun dari 4.500 NTU menjadi sekitar 2.500 NTU. Namun, kondisi tersebut masih berfluktuasi akibat perubahan cuaca dan hujan di wilayah hulu Sungai Batanghari.
Di sisi lain, Tirta Mayang juga melakukan sejumlah langkah antisipasi, di antaranya memperpanjang pipa sadap dan menyiapkan floating pump atau pompa terapung untuk menghadapi perubahan debit Sungai Batanghari.
“Kami berupaya agar pelayanan tidak terhenti. Kami berharap masyarakat memahami kondisi ini, bersabar, serta menggunakan air secara bijak selama proses penyesuaian produksi berlangsung,” pungkasnya.
(Reporter: Meric)







