Jaringan Iblis Bermartabat (JIN): PETI di Bungo Dilindungi, Maklum Harus

Lensaone.id – Bungo –Dugaan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, kini kian menggila. Diduga banyak oknum cukong dan pembisnis PETI ilegal bebas bekerja siang malam demi mendapatkan sebutir mutiara emas dari perut bumi — baik di sungai kecil maupun sungai besar di Kabupaten Bungo.

 

Bisnis PETI ini memang sangat menggiurkan. Harga emas yang terus naik dari masa ke masa membuat banyak petani kebun yang dulu menyadap karet kini beralih profesi menjadi pekerja PETI — mulai dari rakit dompeng, lubang tikus, hingga penggunaan alat berat excavator.

 

Fenomena ini terlihat hampir di seluruh berapa 141 dusun yang ada di Kabupaten Bungo.

 

Sebut saja aliran Sungai Batang Pelepat, Sungai Tebo, Sungai Batang Uleh, dan Sungai Batang Bungo. Belum lagi sungai-sungai kecil yang mengalir di setiap dusun, bermuara ke sungai besar di wilayah Bungo. Sudah bertahun-tahun air sungai berubah keruh pekat, diduga akibat penggunaan merkuri dan lumpur hasil sedotan dompeng maupun excavator.Penertiban berkali-kali dilakukan, tapi hasilnya nihil — bukan berkurang, justru semakin bertambah.

 

Pertanyaan yang Tak Pernah Terjawab

Apakah PETI bisa diberantas?

Mengapa begitu sulit ditindak?

Siapa yang melindungi?

 

Ketika masyarakat melapor, aparat turun hanya untuk “sosialisasi”. Padahal mereka sudah melihat langsung para pekerja dan pemilik rakit. Tapi, tak ada penangkapan, tak ada barang bukti diamankan.

 

Apakah PETI ini sudah dilegalkan?

Atau memang sudah ada permainan mata dengan bos PETI?

 

Jika benar ada “udara SMS banking” lewat percakapan rahasia dan transfer-transfer yang tak kasat mata, maka jangan harap PETI akan bisa diberantas. Sampai tahun berganti abad pun, aktivitas tambang ilegal di “Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun” akan tetap hidup — bahkan tumbuh semakin kuat.

 

Janji Tinggal Janji

Gonta-ganti pemimpin, tapi suaranya tetap sama:“Kami akan sikat PETI! Kami akan musnahkan sampai ke akar-akarnya!”Namun semua itu hanya retorika depan kamera.Tong kosong nyaring bunyinya.

 

Ketika masyarakat datang mengadu, mereka pura-pura tuli.Di depan rakyat, tutur katanya manis, senyumnya harum seperti bunga kesturi.

 

Namun ketika diminta bertindak, jawabannya berputar-putar: “Begini… begitu…” dan akhirnya nihil.

 

Padahal mereka tahu tugasnya, tahu undang-undang, tahu kewajiban. Tapi tak sanggup, atau pura-pura tak mau menindak.

Ironinya, mereka berfoto dengan baliho bertuliskan “Stop Aktivitas PETI” — hanya untuk pencitraan. Setelah kamera mati, semangatnya ikut mati.

 

Rakyat yang Membiayai, Rakyat yang DisakitiPadahal, mereka semua digaji dari pajak rakyat.

Mulai dari baju, celana, sepatu, sabuk, mobil, motor, bensin, makan, kopi, susu, telur, WiFi, token listrik, air mineral, sampai kursi empuk di kantor — semuanya dari uang rakyat.

 

Tapi ketika rakyat berteriak karena sungai rusak dan lahan hancur, mereka justru diam.Duduk, selfie, karaoke, dan menulis laporan di balik meja ber-AC.

 

Mereka sehat, kuat, makan empat sehat lima sempurna.Tapi pikirannya lebih kotor dari oli bekas.Yang keruh bukan sungainya, tapi hatinya.

Yang rusak bukan lingkungannya saja, tapi nuraninya.Tubuh mereka segar, tapi jiwanya keruh seperti lumpur pekat hasil sedotan dompeng.

Dan kekotoran itu ikut menempel di keluarga, di rumah, di hati mereka sendiri.

 

Penutup

Wahai para pemegang tapuk kekuasaan di Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun,adakah di antara kalian yang masih peduli?Yang mau menjaga, membimbing, mencerdaskan, dan menolong masyarakat?

 

Ingatlah, gaji kalian berasal dari pajak rakyat.

Jalankan amanah dengan benar agar menjadi berkah dunia dan akhirat.Kalian sudah bersumpah di atas Al-Qur’an, bukan untuk menipu rakyat.Apakah kalian lupa bahwa neraka itu nyata,dan surga hanya untuk mereka yang amanah?

 

Cerita ini belum selesai.

Episode berikutnya masih tentang PETI kilau emas haram yang menggiurkan,yang membuat orang miskin sekalipun rela melawan hukum.

 

Puase dulu ya, warga Bungo ku , warga dusunku.Nanti kita sambung lagi cerita PETI-ku.

 

(Artikel ditulis oleh: Hendri Putra)