Hesti Haris Ajak Perempuan Jambi Perkuat Budaya Literasi dan Lestarikan Kearifan Lokal

LENSAONE.ID – JAMBI – Bunda Literasi Provinsi Jambi, Hj. Hesnidar Haris, S.E., atau yang akrab disapa Hesti Haris, mengajak perempuan di Provinsi Jambi untuk memperkuat budaya literasi, mengembangkan tradisi menulis, serta melestarikan kearifan lokal melalui karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan dalam pelantikan Pengurus Wanita Penulis Indonesia (WPI) Jambi yang berlangsung di Auditorium Paduko Berhalo, Rumah Dinas Gubernur Jambi, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk mendorong peran perempuan dalam mengembangkan literasi dan memperkaya khazanah budaya daerah.

Hesti Haris mengapresiasi kehadiran WPI Jambi sebagai wadah bagi perempuan dari berbagai latar belakang untuk terus berkarya dan menjaga tradisi menulis di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Menurutnya, kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), memang memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi dan menghasilkan tulisan. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, bernalar, menganalisis, serta menghadirkan sentuhan hati dan jiwa dalam setiap karya.

“Teknologi memang memberikan banyak kemudahan, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa begitu saja digantikan, yaitu hati, jiwa, dan rasa dalam sebuah tulisan. Karena itu, kita bersyukur ada Wanita Penulis Indonesia yang terus menggerakkan semangat perempuan untuk menulis dengan penuh rasa,” ujar Hesti.

Ia menegaskan, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan proses mengolah pikiran, memahami persoalan, menyampaikan pengalaman, serta menawarkan gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Hesti juga mengajak pengurus WPI Jambi menjadikan literasi sebagai gerakan berkelanjutan. Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam keluarga dan masyarakat, terutama dalam membangun karakter generasi muda melalui kebiasaan membaca, menulis, dan berpikir kritis.

Sebagai Bunda Literasi, ia menyatakan komitmennya untuk terus menggerakkan dan mendukung para pegiat literasi. Sementara itu, kemampuan teknis, pengalaman, dan keterampilan menulis perlu dikembangkan melalui proses belajar, berkarya, dan berbagi pengetahuan.

Selain penguatan literasi, Hesti menyoroti pentingnya keterkaitan antara karya tulis dan pelestarian kebudayaan. Menurutnya, tulisan yang baik tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga merekam nilai-nilai luhur dan memperkuat identitas budaya daerah.

Salah satu tradisi yang perlu terus dilestarikan adalah budaya berpantun. Hesti menilai pantun memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan, menghidupkan suasana, serta menjaga etika dan kesantunan dalam berkomunikasi.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, ia mengembangkan buku bertema pantun berjudul Membuat Pantun dalam 5 Menit. Buku itu direncanakan terbit melalui Penerbit Erlangga pada akhir November 2026.

Hesti berharap penguatan literasi berbasis budaya dapat mendorong perempuan Jambi menghasilkan karya yang tidak hanya bernilai intelektual, tetapi juga mencerminkan karakter, kearifan lokal, dan kepribadian bangsa.

Sementara itu, Ketua WPI Jambi, Ramayani, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jambi, khususnya Gubernur Jambi beserta jajaran, atas dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

Ramayani menjelaskan, WPI merupakan organisasi yang memberikan ruang bagi perempuan dari berbagai latar belakang untuk mengembangkan kemampuan menulis. Organisasi ini tidak hanya menaungi penulis fiksi, tetapi juga penulis nonfiksi, penulis lagu, wartawan, serta berbagai profesi lain yang menjadikan tulisan sebagai sarana menyampaikan gagasan dan pengetahuan.

Menurutnya, literasi harus dimaknai secara luas, tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan menyerap informasi, mengambil keputusan, memahami kehidupan, dan meningkatkan kesejahteraan.

“Perempuan bukan hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga harus mampu menjadi penafsir zamannya. Perempuan harus bisa membaca perubahan, mengkritisi keadaan, menawarkan jalan keluar, serta mewariskan pemikiran bagi masa depan melalui tulisan,” ungkap Ramayani.

Ia menambahkan, Provinsi Jambi memiliki kekayaan tradisi pengetahuan dan kebudayaan Melayu, mulai dari pepatah petitih, pantun, seloko, hingga tradisi lisan yang menyimpan nilai-nilai kehidupan. Kekayaan tersebut perlu dirawat, ditafsirkan, dan dituliskan kembali agar tetap relevan bagi generasi mendatang.

Ramayani berharap WPI Jambi dapat menjadi rumah yang terbuka bagi perempuan untuk belajar, bertumbuh, berkarya, dan menyampaikan pemikiran kepada masyarakat luas.

Ia juga mendorong agar karya perempuan Jambi tidak hanya tersimpan dalam catatan atau koleksi pribadi, tetapi dapat diterbitkan, dipublikasikan melalui media, dibicarakan di ruang publik, serta menjadi bagian dari diskusi mengenai pembangunan dan masa depan daerah.

Pelantikan pengurus WPI Jambi tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Pesona Literasi WPI. Acara ini turut diisi lokakarya penulisan kreatif bersama penulis dan pegiat literasi Gol A Gong, yang dikenal sebagai Duta Baca Indonesia.

Sejumlah kegiatan pendukung juga digelar, di antaranya pameran dan bazar buku, pertunjukan musikalisasi puisi, serta orasi literasi.

Sambutan Gubernur Jambi disampaikan oleh Staf Ahli Gubernur Jambi Bidang Sumber Daya Manusia, dr. Ferry Kusnadi, Sp.OG. Dalam sambutan tersebut, ia menyampaikan ucapan selamat kepada Ketua dan seluruh pengurus WPI Jambi yang dilantik.

Ia berharap WPI Jambi dapat menjalankan perannya secara optimal dalam mendorong perkembangan literasi di Provinsi Jambi.

Ferry juga mengingatkan bahwa organisasi sosial membutuhkan semangat pengabdian dan kepedulian bersama. Karena itu, para pengurus diharapkan tidak hanya berorientasi pada manfaat yang diperoleh dari organisasi, tetapi juga memikirkan kontribusi nyata yang dapat diberikan kepada organisasi, pemerintah, dan masyarakat.

Melalui pelantikan dan rangkaian Pesona Literasi WPI, diharapkan semakin banyak perempuan Jambi yang berani menuangkan gagasan, menghasilkan karya berkualitas, serta menjadikan literasi sebagai sarana mencerdaskan masyarakat sekaligus melestarikan kekayaan budaya daerah.

(Reporter: Meric)