LENSAONE.ID – JAMBI – Sebuah gelombang panas menghantam dinding-dinding kaku birokrasi Universitas Nurdin Hamzah (UNH). Pebri Fasela, penggiat sosial yang belakangan ini viral karena aksi berbagi mandirinya, akhirnya angkat bicara dengan nada yang sangat keras dan menantang.
Aksinya yang bergerak tanpa “uang sepeser pun” dari Senat kampus kini resmi disebutnya sebagai Mosi Tidak Percaya terhadap sistem yang ia labeli sebagai “Sistem Sampah.”
Pebri tidak hanya berbagi takjil, ia sedang membagikan tamparan bagi para birokrat kampus yang menurutnya lebih mencintai tumpukan kertas laporan daripada dampak nyata di masyarakat.
“Kami Bukan Pengemis!”: Menggugat Penyunatan Anggaran 90%
Kritik paling pedas dialamatkan pada skema pencairan dana kemahasiswaan yang dianggap sebagai penghinaan intelektual.
“Bayangkan, mahasiswa diperas melalui UKT untuk mengumpulkan anggaran kemahasiswaan hingga 50 juta per semester, tapi saat organisasi mengajukan proposal 10 juta, yang turun cuma 1 juta.
Ini kampus atau tempat pelelangan barang bekas?” ujar sebuah narasi kritis yang mewakili keresahan para aktivis di bawah tekanan sistem UNH.
Pebri menegaskan bahwa sulitnya akses dana bukan sekadar masalah administrasi, melainkan sabotase sistemik untuk memastikan mahasiswa tidak kritis dan tidak berdaya.
Ia menantang pihak Rektorat untuk membuka mata: Mengapa dana milik mahasiswa justru dipersulit untuk kegiatan mahasiswa sendiri?
Birokrasi UNH: “Lintah Administrasi” yang Menghisap Kreativitas
Dalam kritiknya, Pebri memposisikan birokrasi UNH sebagai penghambat utama kemajuan.
Labirin administrasi yang berbelit, tanda tangan yang menyerupai “harta karun” yang sulit ditemukan, hingga revisi proposal yang tidak masuk akal, disebutnya sebagai alat untuk menyandera dana mahasiswa.
“Jika seorang individu tanpa gelar birokrasi bisa menggerakkan massa dan dana secara mandiri dalam sekejap, lantas untuk apa kita memelihara birokrat yang kerjanya hanya memperlambat perubahan? UNH telah gagal total memanusiakan mahasiswanya,” tegas pernyataan tersebut.
Membongkar Topeng Transparansi
Aksi Pebri yang menjauh dari dana Senat adalah bukti bahwa “Uang Kampus itu Beracun” karena sarat dengan kepentingan dan prosedur yang mematikan idealisme.
Ia menantang kampus untuk melakukan audit terbuka: Ke mana sisa 49 juta yang tidak terserap itu mengalir? Apakah habis untuk seremoni pejabat, atau sengaja disimpan agar mahasiswa terus bermental pengemis?
Seruan Perlawanan: “Jangan Takut Bergerak Sendiri!”
Kritik keras ini ditutup dengan seruan bagi seluruh mahasiswa UNH untuk berhenti berharap pada “kebaikan” birokrasi yang kikir. Pebri membuktikan bahwa kekuatan publik jauh lebih besar daripada anggaran kampus yang disunat.
“Biarkan birokrasi UNH bermain dengan kertas-kertasnya sampai mereka sadar bahwa mereka memimpin gedung yang kosong.
Kita akan tetap bergerak, dengan atau tanpa dukungan mereka.
Karena martabat mahasiswa tidak terletak pada stempel kampus, tapi pada keberanian untuk melawan sistem yang busuk!”
(Reporter: Meric Lensaone.id)









