LENSAONE.ID – Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia guna memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global, khususnya meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Langkah ini dinilai krusial mengingat pasar energi global sangat sensitif terhadap konflik di jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz, yang menjadi salah satu titik vital pasokan minyak dunia.
Menteri ESDM menyampaikan bahwa secara umum kondisi energi nasional saat ini masih dalam kategori aman. Stok bahan bakar minyak (BBM) dan minyak mentah (crude) disebut berada di atas batas minimum, sehingga mampu menjaga stabilitas pasokan dalam jangka pendek.
Namun demikian, kondisi tersebut dinilai belum sepenuhnya menjamin ketahanan energi jangka panjang. Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dan BBM masih menjadi tantangan utama, terutama jika terjadi eskalasi konflik global yang berdampak langsung pada distribusi energi.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai mendorong penggunaan energi alternatif, salah satunya melalui pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti LPG. Indonesia dinilai memiliki potensi cadangan gas yang cukup besar untuk mendukung kebijakan ini.
Meski begitu, implementasi CNG masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan infrastruktur distribusi, kebutuhan investasi besar, serta proses konversi peralatan rumah tangga yang memerlukan waktu dan biaya. Selain itu, penerimaan masyarakat terhadap energi alternatif juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Pemerintah juga menyiapkan tiga strategi utama untuk memperkuat ketahanan energi nasional, yakni peningkatan lifting minyak dan gas (migas), pengembangan biodiesel hingga B50, serta pengembangan bioetanol E20.
Namun, ketiga strategi tersebut dinilai masih menghadapi tantangan dalam implementasinya. Peningkatan lifting migas, misalnya, masih terkendala masalah investasi dan regulasi. Sementara itu, program biodiesel bergantung pada ketersediaan bahan baku kelapa sawit, dan bioetanol masih dalam tahap pengembangan dengan berbagai tantangan produksi dan harga.
Secara keseluruhan, pemerintah dinilai telah berada di jalur yang tepat dalam menjaga stabilitas energi sekaligus mendorong transisi menuju kemandirian energi. Namun, keberhasilan kebijakan tersebut sangat bergantung pada kecepatan implementasi dan kesiapan infrastruktur di lapangan.
Jika situasi global semakin memburuk, Indonesia diperkirakan masih relatif aman dalam jangka pendek. Namun untuk mencapai kemandirian energi secara menyeluruh, upaya pengurangan ketergantungan impor serta percepatan pengembangan energi alternatif menjadi pekerjaan besar yang harus segera diselesaikan.
(Sumber: Facebook Setkab RI)
Reporter: Hendri













